Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memaparkan kondisi terkini konsumsi bensin nasional yang telah menyentuh angka 39 hingga 40 juta kiloliter per tahun. Dari total kebutuhan tersebut, Indonesia ternyata masih harus mendatangkan sekitar 20 juta kiloliter atau separuh dari pasokan melalui jalur impor.
Pemerintah terus berupaya meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri melalui proyek pengembangan kilang RDMP Balikpapan yang semula memproduksi 14,3 juta kiloliter. Melalui tambahan kapasitas dari proyek tersebut sebesar 5,6 hingga 5,7 juta kiloliter, total produksi bensin domestik kini diproyeksikan mampu mencapai angka 20 juta kiloliter.
Sumber Pasokan Impor Bensin Indonesia
Bahlil menegaskan bahwa sisa kebutuhan bensin sebesar 50 persen tersebut seluruhnya didatangkan dari negara-negara yang berada di kawasan Asia Tenggara. Pasokan bensin ini dipastikan tidak berasal dari wilayah Timur Tengah, Afrika, Amerika, maupun Rusia sebagaimana sering dipertanyakan publik.
Klarifikasi ini sekaligus menjawab isu mengenai kemungkinan pembelian bahan bakar minyak jadi dari Rusia di tengah dinamika pasar energi global. Mantan Menteri Investasi tersebut menekankan bahwa rantai pasok bensin Indonesia saat ini sangat bergantung pada kerja sama regional di tingkat ASEAN.
| Kategori Data BBM | Volume / Kapasitas |
|---|---|
| Total Konsumsi Bensin Nasional | 39 - 40 Juta Kiloliter |
| Volume Impor Bensin (50%) | Sekitar 20 Juta Kiloliter |
| Produksi Domestik Awal | 14,3 Juta Kiloliter |
| Tambahan Kapasitas RDMP Balikpapan | 5,6 - 5,7 Juta Kiloliter |
| Total Produksi Domestik Pasca RDMP | Sekitar 20 Juta Kiloliter |
Ketahanan Pasokan Solar dan Program B50
Kondisi yang berbeda terjadi pada komoditas solar, di mana Indonesia saat ini sudah memiliki kemampuan penuh untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar jenis CN48 secara mandiri. Produksi dalam negeri untuk solar yang umum digunakan kendaraan bermotor tersebut diklaim sudah mencukupi permintaan pasar domestik saat ini.
Kemandirian energi ini diprediksi akan semakin kuat seiring dengan rencana implementasi kebijakan program B50 yang dijadwalkan mulai berjalan pada bulan Juli mendatang. Melalui penerapan mandatori B50 tersebut, Bahlil optimis bahwa Indonesia tidak hanya akan berswasembada tetapi juga akan mengalami surplus produksi solar.