Daftar Saham Murah yang Layak Dicermati saat IHSG Melemah

Daftar Saham Murah yang Layak Dicermati saat IHSG Melemah

Di tengah tekanan yang dialami Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akibat sentimen global dan konflik di Timur Tengah, beberapa saham dengan valuasi menarik muncul sebagai peluang bagi investor untuk melakukan akumulasi. Kondisi ini terpantau seiring dengan penurunan IHSG sebesar 11,71% sepanjang tahun hingga saat ini, menyentuh level 7.634 pada penutupan perdagangan terakhir.

Pergerakan Pasar dan Peluang Investasi

Di tengah melemahnya IHSG, sejumlah indeks unggulan seperti LQ45 dan IDX80 juga tercatat turun masing-masing 10,36% dan 10,85% year to date (YtD). Saham-saham blue chips, seperti PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) dan PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), menunjukkan valuasi di bawah rata-rata historis meskipun ada perbedaan dalam kinerja fundamentalnya.

Berdasarkan analisis terhadap sepuluh saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di LQ45, sembilan di antaranya memiliki rasio harga terhadap laba (P/E) di bawah rata-rata lima tahun. Namun, pergerakan harga saham sebagian berlawanan dengan kinerja fundamental, seperti yang terjadi pada PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), yang mengalami lonjakan laba namun harga sahamnya justru menurun.

Kondisi Saham Individual

PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) menunjukkan penurunan laba bersih yang signifikan diikuti dengan penurunan harga saham. Meskipun begitu, valuasi AMMN juga masih lebih rendah dari rata-rata historisnya, dengan P/E rasio mencatatkan penurunan dari sebelumnya.

Analis dari Indo Premier Sekuritas mengungkapkan bahwa penurunan IHSG disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu peringatan MSCI mengenai risiko penurunan status Indonesia dan revisi outlook fiskal oleh Fitch dan Moody's. Di samping itu, konflik di Timur Tengah juga semakin memperburuk keadaan pasar.

Proyeksi dan Rekomendasi

Reformasi yang dilakukan di pasar modal diharapkan bisa meredakan kekhawatiran investor terkait kemungkinan penurunan peringkat Indonesia di indeks MSCI. Pemerintah juga menegaskan komitmennya untuk menjaga defisit fiskal di bawah 3%, memberikan harapan bagi perbaikan pasar dalam waktu dekat.

IPOT Sekuritas memperkirakan bahwa kinerja fundamental emiten yang tergabung dalam indeks LQ45 belum sepenuhnya tercermin dalam harga saham, dengan proyeksi laba bersih tumbuh pada kuartal pertama 2026. Rata-rata laba pada kuartal tersebut diharapkan dapat berbalik arah dan menunjukkan pertumbuhan yang positif, melampaui ekspektasi untuk beberapa sektor.

Pendorong Pertumbuhan Sektor

Sektor logam dan migas diperkirakan akan menjadi pendorong utama pertumbuhan, dengan estimasi masing-masing mencapai 89% dan 65%. Selain itu, sektor ritel, minyak kelapa sawit, dan telekomunikasi juga diharapkan menunjukkan pertumbuhan dua digit pada tahun 2026, memberikan sinyal positif bagi pelaku pasar.

IPOT Sekuritas merekomendasikan beberapa saham dalam sektor perbankan seperti BMRI, BBNI, dan BBTN, serta saham dari sektor logam dan komoditas. Mirae Asset Sekuritas juga mencatat beberapa saham di LQ45 yang saat ini diperdagangkan dengan valuasi murah.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: market.bisnis.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.