Laporan terbaru dari firma riset pasar Counterpoint Research mengungkapkan bahwa pasar ponsel pintar global mengalami tren pelemahan yang cukup signifikan pada kuartal pertama tahun 2026. Selama periode Januari hingga Maret tersebut, angka pengiriman atau shipment perangkat tercatat mengalami penurunan sebesar 6 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Meskipun volume unit pengiriman secara spesifik tidak dipublikasikan, Analis Senior Counterpoint Research, Shilpi Jain, menjelaskan bahwa situasi ini dipicu oleh kelangkaan komponen memori krusial seperti DRAM dan NAND. Krisis pasokan komponen tersebut telah memberikan tekanan besar pada biaya produksi perangkat, sehingga menghambat distribusi produk ke pasar global secara keseluruhan.
Faktor lain yang menyebabkan kelesuan pasar adalah rendahnya minat beli konsumen yang dipengaruhi oleh ketidakpastian kondisi ekonomi dunia serta ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah. Kelangkaan memori ini juga diperparah oleh kebijakan produsen komponen yang lebih memprioritaskan penyediaan pasokan untuk pusat data kecerdasan buatan (AI) dibandingkan untuk perangkat elektronik konsumen.
Dampak dari kelangkaan ini membuat para produsen ponsel harus menghadapi lonjakan biaya produksi atau Bill of Materials (BOM) yang pada akhirnya menggerus margin keuntungan perusahaan. Sebagai langkah mitigasi, sebagian dari beban biaya tambahan tersebut terpaksa dibebankan kepada konsumen akhir melalui penyesuaian harga jual di pasaran.
Menurut Shilpi Jain, tekanan akibat kenaikan biaya ini jauh lebih terasa pada segmen ponsel kelas bawah (entry-level) serta kelas menengah yang memiliki sensitivitas harga tinggi. Sebaliknya, segmen perangkat premium atau flagship dinilai jauh lebih tangguh dalam menghadapi tekanan ekonomi dan fluktuasi biaya produksi yang tengah terjadi saat ini.
Counterpoint memprediksi bahwa tantangan di pasar ponsel pintar ini akan terus berlanjut sepanjang tahun 2026 dengan krisis memori yang diperkirakan baru akan berakhir pada 2027. Kondisi sulit ini memaksa para vendor smartphone untuk merombak strategi bisnis mereka dengan lebih mengedepankan nilai produk (value) daripada sekadar mengejar volume penjualan semata.
Strategi baru ini mencakup langkah pengurangan jumlah model ponsel yang memiliki margin keuntungan rendah serta peningkatan spesifikasi perangkat secara lebih selektif. Selain itu, para produsen akan lebih mengandalkan kekuatan ekosistem dan layanan tambahan guna menjaga pertumbuhan bisnis mereka di tengah situasi pasar yang tidak menentu.
Fenomena menarik lainnya yang diprediksi akan muncul adalah meningkatnya popularitas perangkat bekas pakai atau refurbished sebagai alternatif bagi konsumen. Tren ini kemungkinan besar akan sangat diminati oleh para pembeli yang berada di segmen harga terjangkau namun tetap menginginkan perangkat dengan kualitas yang memadai.
Daftar Penguasa Pasar Smartphone Global Awal 2026
Berdasarkan data riset yang sama untuk periode kuartal pertama 2026, Apple berhasil mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin pasar ponsel pintar di tingkat global. Perusahaan pengembang iPhone tersebut mencatatkan pangsa pasar sebesar 21 persen, yang menunjukkan adanya pertumbuhan positif sebesar 5 persen secara tahunan.
Kesuksesan Apple ini disebut-sebut berkat tingginya minat masyarakat terhadap seri iPhone 17 serta kemampuan manajemen rantai pasok mereka yang sangat efisien dalam menghadapi krisis memori. Program tukar tambah yang agresif serta kekuatan ekosistem produk yang solid juga menjadi faktor kunci yang menjaga stabilitas pertumbuhan Apple di tengah guncangan pasar.
Permintaan terhadap produk iPhone tercatat mengalami lonjakan di berbagai pasar strategis kawasan Asia Pasifik, terutama di negara-negara besar seperti China, India, dan Jepang. Posisi tepat di bawah Apple ditempati oleh Samsung yang menguasai 20 persen pangsa pasar, namun mengalami penurunan pertumbuhan sebesar 6 persen dibanding tahun lalu.
Penurunan kinerja Samsung ini disebabkan oleh adanya penundaan jadwal peluncuran seri unggulan Galaxy S26 serta merosotnya angka permintaan pada segmen ponsel kelas bawah. Sementara itu, Xiaomi berada di peringkat ketiga dengan pangsa pasar 12 persen, yang sayangnya mencatatkan penurunan drastis mencapai 19 persen secara tahunan.
Xiaomi mengalami tekanan berat karena lini bisnisnya sangat bergantung pada segmen ponsel harga terjangkau yang paling terdampak oleh kenaikan harga komponen global saat ini. Berikut adalah rincian data mengenai pangsa pasar lima besar merek ponsel di dunia pada awal tahun 2026 berdasarkan laporan resmi Counterpoint Research.
| Peringkat | Vendor | Market Share Kuartal I-2025 (persen) | Market Share Kuartal I-2026 (persen) | Pertumbuhan YoY (persen) |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Apple | 19 | 21 | 5 |
| 2 | Samsung | 20 | 20 | -6 |
| 3 | Xiaomi | 14 | 12 | -19 |
| 4 | Oppo | 11 | 11 | -4 |
| 5 | Vivo | 7 | 8 | -2 |
| 6 | Merek lainnya | 29 | 28 | -10 |
| Total | 100 | 100 | -6 | |
Secara keseluruhan, meskipun beberapa vendor besar mengalami penyusutan pangsa pasar, Apple mampu menunjukkan performa yang berlawanan dengan tren umum industri. Persaingan di pasar global tetap ketat di mana para produsen kini dituntut untuk lebih inovatif dalam mengelola biaya produksi agar tetap kompetitif di mata konsumen.