PT Wahana Interfood Nusantara Tbk. (COCO), perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan makanan berbasis kakao, tengah menyiapkan aksi korporasi berupa penambahan modal melalui skema hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue. Langkah strategis ini diambil guna memperkuat struktur permodalan perusahaan demi mendukung rencana ekspansi serta memacu pertumbuhan kinerja operasional di masa mendatang.
Keputusan besar tersebut telah mengantongi restu dari para pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang diselenggarakan pada Jumat, 17 April 2026. Dalam aksi Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) III ini, emiten tersebut berencana menerbitkan saham baru dalam jumlah yang sangat signifikan, yakni mencapai maksimal 10,67 miliar lembar saham dengan nilai nominal sebesar Rp100 per saham.
Selain penerbitan saham baru, produsen cokelat ini juga membuka peluang untuk menerbitkan waran sebagai insentif tambahan bagi para investor. Jumlah waran yang diusulkan mencapai maksimal 35 persen dari total saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh pada saat pernyataan pendaftaran diajukan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Direktur Utama COCO, Sugianto Soenario, menjelaskan bahwa pelaksanaan rights issue merupakan bagian integral dari strategi perusahaan untuk mempercepat perluasan jangkauan bisnis. Fokus utama dari penggunaan dana ini mencakup aktivitas akuisisi strategis serta penguatan berbagai lini usaha utama yang dimiliki oleh perseroan saat ini.
Sugianto menambahkan bahwa persetujuan yang diberikan oleh para pemegang saham menjadi momentum krusial bagi perusahaan untuk memasuki fase pertumbuhan baru. Ia menegaskan bahwa ke depannya, COCO akan bergerak lebih agresif namun tetap terukur dalam mengejar target-target bisnis yang telah ditetapkan dalam peta jalan perusahaan.
Manajemen merinci bahwa dana segar yang diperoleh dari pasar modal akan dialokasikan secara fokus untuk mendukung pengembangan pada sektor pengolahan kakao serta penyediaan bahan baku. Selain itu, dana tersebut juga akan dimanfaatkan untuk memperkaya varian produk konsumen dan mencari peluang akuisisi guna memperluas portofolio usaha secara berkelanjutan.
Langkah ekspansi yang ambisius ini didasari oleh tren positif pada kinerja operasional perusahaan sepanjang tahun buku 2025 yang lalu. Berdasarkan laporan keuangan terbaru, COCO berhasil mencatatkan akselerasi penjualan pada kuartal IV/2025 dengan kenaikan mencapai 40 persen jika dibandingkan dengan capaian pada kuartal sebelumnya.
Peningkatan performa tersebut didorong oleh penguatan yang signifikan pada segmen business-to-business (B2B) serta kontribusi yang stabil dari produk-produk ritel berbasis cokelat. Dari sisi industri, manajemen memandang bahwa prospek pasar untuk komoditas kakao dan cokelat masih sangat menjanjikan dengan potensi permintaan yang terus meningkat.
Data industri menunjukkan bahwa permintaan global untuk produk kakao diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 4,9 persen hingga tahun 2034 mendatang. Sementara itu, pasar bahan baku kakao di pasar domestik sendiri diperkirakan akan mengalami pertumbuhan sekitar 6 persen hingga periode tahun 2031.
Dengan memanfaatkan momentum pasar tersebut, COCO optimistis bahwa aksi penambahan modal ini akan memperkokoh fondasi keuangan perusahaan. Penguatan modal ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing perseroan baik di tingkat nasional maupun internasional di tengah persaingan pasar global yang semakin kompetitif.
Sebelum pelaksanaan aksi korporasi ini, COCO telah menetapkan target ambisius untuk mencetak pertumbuhan pendapatan sebesar 50 persen pada tahun 2026. Target tersebut diselaraskan dengan rencana peningkatan kapasitas produksi yang sedang berjalan guna memenuhi permintaan pasar yang terus melonjak.
Data Kinerja Pendapatan Berdasarkan Kategori Produk
| Kategori Produk | Pendapatan 2025 (Miliar Rupiah) |
|---|---|
| Bubuk Kakao | 58,22 |
| Cokelat Campuran | 55,36 |
| Cokelat Murni | 37,64 |
| Makanan dan Minuman | 13,84 |
| Total Pendapatan | 165,08 |
Secara keseluruhan, pendapatan COCO pada tahun 2025 sebesar Rp165,08 miliar menunjukkan kenaikan tipis sekitar 2,47 persen dari pencapaian tahun sebelumnya yang tercatat senilai Rp161,08 miliar. Sugianto Soenario mengungkapkan bahwa dalam kurun waktu dua tahun terakhir, perusahaan telah mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp27 miliar.
Dana belanja modal tersebut secara spesifik difokuskan untuk memodernisasi infrastruktur produksi guna meningkatkan kapasitas serta produktivitas operasional pabrik. Perusahaan menargetkan kapasitas produksi akan melonjak drastis dari yang semula hanya 3.000 ton menjadi 12.000 ton per tahun, yang diharapkan mulai beroperasi penuh pada 2026.
Melalui berbagai inisiatif strategis ini, Win&Co Group sebagai induk usaha merasa sangat yakin mampu merealisasikan target pertumbuhan pendapatan di atas angka 50 persen. Komitmen ini disampaikan secara resmi oleh jajaran direksi sebagai bentuk tanggung jawab kepada para pemegang saham dan investor yang telah mendukung perjalanan bisnis perusahaan.