Hubungan China-Jepang Memanas, Sektor Pariwisata Kian Terpuruk

Hubungan China-Jepang Memanas, Sektor Pariwisata Kian Terpuruk

Hubungan diplomatik yang memanas antara China dan Jepang memberikan dampak signifikan terhadap sektor transportasi udara dan pariwisata kedua negara tersebut. Penurunan arus lalu lintas manusia semakin terasa nyata, terutama di saat musim mekar bunga sakura yang biasanya menjadi puncak kunjungan wisatawan mancanegara.

Berdasarkan laporan dari penyedia data penerbangan sipil Flight Master, sebanyak 53 rute penerbangan terjadwal antara China dan Jepang harus dibatalkan sepenuhnya sepanjang bulan Maret. Tercatat ada 2.691 jadwal penerbangan yang tidak terealisasi, yang mana angka tersebut setara dengan tingkat pembatalan sebesar 49,6 persen dari total kapasitas yang ada.

Fenomena penangguhan ini menimpa rute-rute yang selama ini dikenal sangat populer di kalangan pelancong bisnis maupun wisatawan umum. Sebagai contoh, layanan dari Bandara Internasional Beijing Daxing menuju Bandara Internasional Kansai di Osaka tidak mengoperasikan satu pun dari 125 keberangkatan yang telah direncanakan sebelumnya.

Kondisi serupa terjadi pada jalur penghubung antara Bandara Internasional Shanghai Pudong menuju Sapporo yang juga harus dihentikan operasionalnya secara total. Begitu pula dengan kota-kota di wilayah timur laut China seperti Shenyang menuju Osaka serta Dalian menuju Fukuoka yang mencatatkan angka pembatalan mencapai 100 persen.

Tren penurunan ini tidak menunjukkan tanda-tanda membaik dan terus berlanjut hingga memasuki periode bulan April sebagaimana terekam oleh data VariFlight. Per tanggal 19 April, hanya segelintir kota besar seperti Beijing, Shanghai, dan Guangzhou yang masih menyediakan akses penerbangan langsung menuju wilayah Jepang.

Bandara Internasional Wuhan Tianhe di provinsi Hubei bahkan dilaporkan media lokal sudah tidak lagi melayani rute penumpang langsung menuju Negeri Sakura. Sejak rute Wuhan ke Tokyo dan Osaka ditangguhkan pada pertengahan Februari, para pelancong terpaksa melakukan transit melalui Beijing atau Shanghai yang berakibat pada durasi perjalanan yang jauh lebih lama.

Menyikapi situasi yang tidak menentu ini, sejumlah maskapai besar asal China mulai memperpanjang kebijakan fleksibilitas tiket bagi para calon penumpang mereka. Perusahaan seperti Air China, China Eastern Airlines, dan China Southern Airlines memberikan fasilitas bagi pemegang tiket rute Jepang untuk melakukan penjadwalan ulang atau pembatalan secara cuma-cuma.

Kebijakan pembebasan biaya administrasi tersebut berlaku untuk jadwal penerbangan mulai dari 29 Maret hingga 24 Oktober, memperpanjang masa berlaku aturan sebelumnya yang hanya sampai akhir Maret. Langkah ini diambil guna mengakomodasi ketidakpastian pasar yang saat ini sedang mengalami tekanan cukup berat akibat faktor geopolitik.

Statistik Penurunan Lalu Lintas Udara China-Jepang

Kategori Data Statistik dan Persentase
Total Pembatalan Penerbangan (Maret) 2.691 Penerbangan
Tingkat Pembatalan Rute 49,6 Persen
Penurunan Jumlah Pengunjung (YoY) 55,9 Persen
Tingkat Keterisian Penumpang (Load Factor) 40 Persen - 48 Persen
Ambang Batas Keuntungan Industri (Breakeven) 70 Persen

Data dari Organisasi Pariwisata Nasional Jepang mengonfirmasi bahwa jumlah kunjungan dari China daratan turun drastis ke angka 291.600 orang pada bulan Maret. Realitas ini mencerminkan kemerosotan sebesar 55,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi tren negatif yang sudah bertahan selama empat bulan berturut-turut.

Pihak maskapai dan platform perjalanan pun melaporkan bahwa tingkat keterisian kursi pada penerbangan yang masih tersisa hanya berkisar antara 40 hingga 48 persen saja. Angka tersebut berada jauh di bawah standar keuntungan industri sebesar 70 persen, sehingga banyak rute saat ini dianggap tidak lagi layak secara ekonomi.

Pemicu utama dari kontraksi tajam pada sektor perjalanan ini diduga kuat berawal dari pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi terkait isu Taiwan. Ucapan tersebut memicu reaksi keras di China daratan yang kemudian diikuti dengan melemahnya permintaan perjalanan wisata secara bertahap oleh masyarakatnya.

Seiring dengan menurunnya minat publik, maskapai-maskapai China pun mulai mengurangi kapasitas kursi pada rute-rute menuju Jepang untuk meminimalkan kerugian operasional. Artikel ini menjadi informasi yang paling banyak dicuri perhatian pembaca pada Kamis, 23 April 2026, di tengah berbagai isu perjalanan internasional lainnya.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: travel.detik.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.