IHSG Melemah ke Level 7.954 di Akhir Perdagangan, Saham UNVR hingga PANI Turut Merosot

IHSG Melemah ke Level 7.954 di Akhir Perdagangan, Saham UNVR hingga PANI Turut Merosot

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG terpantau mengakhiri perdagangan pada awal pekan, Senin (20/4/2026), dengan bergerak ke zona merah. Pergerakan indeks komposit tersebut merosot hingga ke level 7.594,11 akibat tekanan jual pada sejumlah saham dengan kapitalisasi pasar besar.

Pelemahan ini didorong oleh terkoreksinya harga saham emiten-emiten raksasa seperti UNVR, TPIA, hingga PANI yang menyeret kinerja indeks secara keseluruhan. Berdasarkan laporan dari Bursa Efek Indonesia (BEI), penurunan IHSG tercatat mencapai 0,52 persen atau setara dengan pelemahan 39,89 poin.

Pada sesi pembukaan pagi hari, indeks komposit sebenarnya sempat mengawali perdagangan di posisi 7.663,39 dan terus mendaki hingga batas tertinggi di 7.692,14. Namun, tren positif tersebut tidak bertahan lama karena tekanan pasar mulai mendominasi hingga penutupan sesi perdagangan sore hari.

Statistik pasar menunjukkan bahwa terdapat 424 saham yang mengalami penurunan harga, sementara hanya 247 saham yang mampu bertahan menguat. Sisanya sebanyak 148 saham dilaporkan tidak mengalami perubahan harga atau stagnan dibandingkan posisi pada hari perdagangan sebelumnya.

Total nilai kapitalisasi pasar atau market cap di bursa saham domestik pada akhir perdagangan tercatat berada di angka Rp13.559 triliun. Meskipun IHSG melemah, beberapa saham berkapitalisasi jumbo masih mampu menunjukkan performa positif dan menahan koreksi yang lebih dalam.

Kinerja Saham Big Caps dan Pergerakan Harga

Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) terpantau masih bergerak di jalur hijau dengan kenaikan sebesar 0,78 persen ke level Rp6.475 per lembar. Selain itu, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) juga menguat 0,62 persen menjadi Rp3.270, diikuti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang naik 0,29 persen ke Rp3.440.

Sebaliknya, saham PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) justru mengalami nasib kurang beruntung setelah terkoreksi 2,41 persen menuju level harga Rp1.820. Penurunan signifikan juga dialami oleh saham PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) yang tergelincir sebesar 2,02 persen menjadi Rp6.075 per sahamnya.

Emiten properti PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI) turut memperberat langkah indeks setelah harga sahamnya anjlok 1,96 persen ke level Rp8.750. Sementara itu, salah satu perbankan pelat merah yakni PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) mencatatkan kontraksi sebesar 1,08 persen ke posisi Rp3.670.

Kategori Saham Nama Emiten Perubahan (%) Harga Terakhir (Rp)
Top Gainers PT Danasupra Erapacific Tbk. (DEFI) +34,97% 220
Top Gainers PT LCK Global Kedaton Tbk. (LCKM) +34,88% 116
Top Losers PT Idea Indonesia Akademi Tbk. (IDEA) -9,38% 87
Top Losers PT Ketrosden Triasmitra Tbk. (KETR) -8,11% 510

Faktor Global dan Analisis Teknikal

Valdy Kurniawan selaku Head of Research Phintraco Sekuritas menjelaskan bahwa pelemahan IHSG sebenarnya sudah terlihat sejak sesi pertama dengan penurunan tipis 0,16 persen. Menurut analisisnya, kenaikan tensi ketidakpastian global menjadi salah satu faktor utama yang menekan kepercayaan para investor di pasar modal.

Penutupan kembali akses Selat Hormuz oleh pihak Iran memicu kekhawatiran baru karena berdampak langsung pada lonjakan harga minyak dunia di atas US$90 per barel. Kondisi geopolitik yang memanas ini secara otomatis memberikan dampak domino pada pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia yang sangat sensitif terhadap harga komoditas.

Dari perspektif teknikal, Valdy menyebutkan bahwa pergerakan indeks komposit saat ini menunjukkan kecenderungan melemah dengan indikator histogram MACD yang tampak mendatar. Selain itu, indikator stochastic RSI juga telah berada di area jenuh beli atau overbought, sehingga potensi koreksi lanjutan masih terbuka lebar.

Berdasarkan riset hariannya, IHSG diproyeksikan akan terus berfluktuasi dalam rentang dukungan dan hambatan di level 7.600 hingga 7.700. Para pelaku pasar diingatkan untuk tetap waspada terhadap sentimen eksternal yang masih sangat dinamis serta dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi politik internasional.

Laporan ini disusun berdasarkan data terkini bursa saham dan pandangan ahli sebagai referensi informasi bagi publik. Penting untuk diingat bahwa setiap keputusan investasi tetap merupakan tanggung jawab penuh masing-masing individu tanpa keterlibatan pihak luar.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: market.bisnis.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.