Harga minyak mentah dunia dilaporkan mengalami lonjakan signifikan pada perdagangan hari Minggu, 19 April 2026, menyusul meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi yang berada di ambang peperangan ini dipicu oleh rentetan serangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi kawasan strategis Selat Hormuz.
Berdasarkan data yang dihimpun dari CNBC pada Senin, 20 April 2026, harga minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Mei meroket sekitar 7 persen ke level USD 89,74 per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis Brent untuk pengiriman Juni turut terkerek naik hampir 5,8 persen hingga menyentuh angka USD 95,59 per barel.
| Jenis Minyak | Kontrak Pengiriman | Kenaikan Persentase | Harga Per Barel (USD) |
|---|---|---|---|
| West Texas Intermediate (WTI) | Mei 2026 | ~7,0% | 89,74 |
| Brent | Juni 2026 | ~5,8% | 95,59 |
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengonfirmasi bahwa Angkatan Laut AS telah melepaskan tembakan ke arah kapal kontainer milik Iran di Teluk Oman sebelum akhirnya dikuasai oleh pasukan Marinir. Melalui platform Truth Social, Trump menjelaskan bahwa tindakan tersebut diambil karena kapal itu berupaya menembus blokade laut yang diterapkan AS di pelabuhan-pelabuhan Iran.
Aksi penyitaan oleh pihak Washington ini merupakan respons langsung setelah militer Iran diduga menyerang sebuah kapal tanker di Selat Hormuz pada hari Sabtu sebelumnya. Pusat Operasi Maritim Inggris melaporkan bahwa kapal-kapal perang Garda Revolusi Iran menembaki tanker tersebut dan satu kapal kontainer lainnya terkena proyektil yang belum teridentifikasi.
Ketegangan semakin memanas ketika Trump kembali melontarkan ancaman keras untuk menghancurkan seluruh fasilitas pembangkit listrik serta infrastruktur jembatan di Iran jika kesepakatan tidak segera dicapai. Ia juga menegaskan bahwa serangan Iran terhadap kapal komersial akhir pekan lalu merupakan bentuk pelanggaran total terhadap perjanjian gencatan senjata yang akan berakhir minggu ini.
Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai kelanjutan negosiasi perdamaian putaran kedua yang rencananya akan diselenggarakan di Islamabad, Pakistan. Ketidakpastian dialog diplomatik ini menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas pasokan energi global di masa depan.
Eskalasi Ketegangan Global di Sektor Energi
Keputusan sepihak Iran untuk kembali menutup lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz pasca serangan udara dari Amerika Serikat dan Israel berdampak instan pada lonjakan harga bahan bakar. Penutupan jalur distribusi utama ini menciptakan kekosongan pasokan yang memicu kepanikan pasar energi internasional secara mendadak.
Meski Trump menyatakan adanya rencana pembicaraan di Islamabad pada hari Senin, pihak Teheran melalui kantor berita IRNA menyatakan tidak akan hadir dalam pertemuan tersebut. Iran menegaskan bahwa keberlanjutan blokade angkatan laut Amerika Serikat menjadi alasan utama penolakan mereka untuk berpartisipasi dalam meja perundingan.
Situasi ini tergolong fluktuatif karena sebelumnya harga minyak sempat mengalami penurunan pada hari Jumat setelah Iran menyatakan Selat Hormuz terbuka untuk lalu lintas komersial. Respons positif tersebut awalnya didasari oleh kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi AS di Lebanon sebelum situasi kembali memburuk.
Namun, harapan akan normalisasi perdagangan tersebut sirna setelah Teheran tetap memberlakukan persyaratan ketat bagi kapal-kapal yang ingin melintasi jalur strategis tersebut. Di sisi lain, Presiden Trump tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak mencabut blokade angkatan laut yang mengepung akses ekonomi Iran.
Status Penutupan Selat Hormuz dan Sikap Iran
Pemerintah Iran secara resmi mengumumkan bahwa kontrol penuh atas Selat Hormuz telah dikembalikan ke status sebelumnya di tengah konflik yang kian meruncing dengan Amerika Serikat. Keputusan ini diambil sebagai langkah defensif terhadap operasi blokade laut yang dilakukan militer AS yang dianggap merugikan kedaulatan Iran.
Komando operasional militer Iran, Khatam Al-Anbiya, sebagaimana dikutip dari media The Guardian, melabeli tindakan blokade yang dilakukan oleh Amerika Serikat sebagai aksi pembajakan. Oleh karena itu, pengelolaan jalur perairan yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia tersebut kini berada di bawah kendali ketat angkatan bersenjata Iran.
Pernyataan resmi Iran menegaskan bahwa pengawasan ketat terhadap navigasi di Selat Hormuz akan terus berlangsung hingga Amerika Serikat memulihkan kebebasan berlayar sepenuhnya. Kondisi ini mencakup jaminan keamanan bagi kapal-kapal yang berangkat dari Iran maupun yang menuju pelabuhan-pelabuhan di negara tersebut.
Meskipun sebelumnya terdapat klaim pembukaan jalur pelayaran, Donald Trump tetap menegaskan bahwa blokade ekonomi dan militer tidak akan dihentikan tanpa adanya perjanjian baru. Isu terkait program nuklir Iran tetap menjadi poin krusial yang harus diselesaikan dalam negosiasi agar sanksi dan blokade tersebut dapat ditarik kembali oleh pihak Washington.