Kasus penyelundupan bawang impor ilegal kembali mencuat di Pontianak, Kalimantan Barat, dengan total 23,1 ton bawang disita. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menekankan perlunya tindakan tegas terhadap para pelaku yang terlibat dalam kegiatan ilegal ini.
Amran menyatakan bahwa tidak ada toleransi bagi mereka yang melanggar peraturan di sektor pangan. "Ditindak tegas, enggak ada kompromi yang bermain-main dengan negara kita," ucapnya saat konferensi pers di Kementerian Pertanian.
Dalam aksi penegakan hukum tersebut, Satgas Pangan Polri juga mengamankan sejumlah cabai kering. Impor ilegal ini diduga berasal dari negara-negara seperti Thailand, China, Belanda, dan India.
Amran memastikan bahwa kondisi harga pangan di Indonesia masih stabil dan mengklaim bahwa negara tidak memerlukan impor pangan dalam situasi seperti sekarang. "Coba kemarin, stabil harga, kita harus tegas," ucapnya, menekankan hukum sebagai panglima di bidang pangan.
Rincian Penyitaan Bawang Ilegal
Dalam rincian sebelumnya, penyitaan 23,1 ton terdiri dari berbagai jenis bawang, seperti bawang merah Thailand sebanyak 2,1 ton, bawang putih China 9,1 ton, dan bawang bombai dari Belanda dan India. Berbeda dengan bawang, terdapat juga 2,2 ton cabai kering asal China dalam penindakan ini.
Aparat keamanan telah menggagalkan sejumlah besar penyelundupan pangan dalam beberapa bulan terakhir. Ini termasuk penahanan 133,5 ton bawang bombai ilegal di Semarang dan 72 ton di Surabaya.
Amran menggarisbawahi bahwa penyelundupan ini merupakan aktivitas terorganisir yang melibatkan mafia pangan dengan skala besar. "Artinya ada kekuatan besar di belakangnya,” tegasnya, menyoroti pengaruh negatif terhadap kemandirian pangan Indonesia.
Dampak Terhadap Petani Lokal
Amran menjelaskan bahwa Indonesia sebenarnya telah mencapai swasembada bawang merah, sehingga kehadiran produk ilegal ini jelas merugikan petani lokal. "Tidak ada alasan barang ilegal masuk selain merusak harga petani," tambahnya.
Ia juga mencatat bahwa petani cabai sering kali merasakan dampak buruk dari harga yang terjun saat panen. "Jangan disakiti lagi. Mereka bekerja keras di lapangan," ujarnya, menyerukan perlindungan bagi para petani.
Menanggapi tindakan tegas yang dilakukan oleh pihak berwenang, Amran mengapresiasi langkah cepat Satgas Pangan dalam menggagalkan penyelundupan. “Ini adalah bukti nyata kehadiran negara dalam melindungi petani,” katanya.
Namun, Amran meminta agar penyelidikan tidak berhenti pada pelaku lapangan saja. "Kami minta diusut hingga ke akar, dan aktor intelektualnya harus dibongkar,” tegasnya, menekankan bahwa ini adalah jaringan besar yang harus diatasi.