Rupiah Menguat Tipis ke Level Rp17.165 di Tengah Pelemahan Mayoritas Mata Uang Asia

Rupiah Menguat Tipis ke Level Rp17.165 di Tengah Pelemahan Mayoritas Mata Uang Asia

Rupiah tercatat mengalami penguatan tipis menjadi Rp17.165 dalam perdagangan Senin (20/4/2026), di tengah koreksi mayoritas mata uang Asia akibat ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat dan Iran berkaitan dengan inflasi energi. Berdasarkan data TradingView, kurs rupiah menguat 0,11%, sementara indeks dolar AS mengalami kenaikan 0,19% menjadi 98,28.

Dalam pergerakan mata uang Asia, beberapa di antaranya mengalami pelemahan, termasuk yen Jepang yang turun 0,24%, yuan China melemah 0,03%, dan dolar Singapura yang tergerus 0,21%. Selain itu, won Korea Selatan, ringgit Malaysia, peso Filipina, serta baht Thailand juga menunjukkan penurunan nilai tukar masing-masing sebesar 0,58% dan 0,67%.

Pakar mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa sentimen pasar terpengaruh oleh penutupan Selat Hormuz setelah terjadi pelanggaran kesepakatan gencatan senjata oleh AS dan Iran, yang melibatkan serangan terhadap kapal-kapal. Donald Trump mengonfirmasi bahwa AS telah menangkap kapal Iran yang mencoba menghindari blokade, sementara Iran memutuskan untuk tidak berpartisipasi dalam pembicaraan damai yang diusulkan.

AS terus mempertahankan blokade pelabuhan-pelabuhan Iran, di mana Iran sendiri membalikkan keputusan dan memberlakukan kembali blokade terhadap Selat Hormuz, yang mengendalikan sekitar 20% pasokan minyak dunia. Perang yang terjadi sejak hampir dua bulan lalu menyebabkan lonjakan harga minyak hingga 7%, menambah ketegangan di pasar akibat potensi inflasi.

Di sisi domestik, sentimen negatif juga dipengaruhi oleh peringatan dari Dana Moneter Internasional (IMF) mengenai belanja pemerintah yang berlebihan tengah ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah. IMF mengingatkan bahwa ketidakpastian dan potensi resesi akan semakin meningkat jika lagi jika konflik berlanjut, berpotensi menekan harga bahan bakar minyak.

Penutupan Selat Hormuz dan kerusakan pada infrastruktur energi utama di Timur Tengah dapat memperburuk krisis energi jika solusi jangka panjang tidak segera ditemukan. Dengan meningkatnya utang publik, ruang fiskal yang tersedia kini jauh lebih terbatas dibandingkan sebelumnya.

Pembatasan harga, subsidi, dan intervensi sering kali menjadi solusi yang diambil, tetapi hal ini dapat mengganggu harga dan mengakibatkan ketergantungan yang tidak efisien. Untuk perdagangan ke depan, nilai tukar rupiah diprediksi akan berada dalam rentang Rp17.160-Rp17.200 per dolar AS.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: market.bisnis.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.