Laporan terbaru mengungkapkan pergeseran signifikan dalam cara wisatawan menghabiskan waktu liburan mereka, di mana aspek spontanitas serta ketertarikan pada kerajinan dan kuliner lokal kini menjadi daya tarik utama. Transformasi tren ini terlihat dari kebiasaan pelancong yang dahulu fokus pada dokumentasi foto, namun saat ini lebih memilih membuat video pendek serta mencari destinasi tersembunyi yang jarang dikunjungi orang.
Berwisata di masa kini bukan lagi sekadar kunjungan biasa, melainkan upaya untuk merasakan pengalaman mendalam dan menjalin hubungan langsung dengan kebudayaan di lokasi tujuan. Berdasarkan Global Travel Trends Report 2026 dari American Express, tercatat bahwa 64% responden dari Generasi Milenial dan Gen Z bahkan bersedia mengambil pekerjaan dengan fasilitas terbatas demi fleksibilitas untuk lebih sering melancong.
Survei komprehensif ini melibatkan lebih dari 8.000 partisipan yang berasal dari berbagai negara besar seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, Kanada, Jepang, Meksiko, hingga India. Mayoritas responden tersebut memiliki kebiasaan rutin bepergian setidaknya setahun sekali, dengan prioritas utama menyusun rencana perjalanan yang mampu menciptakan kenangan berkesan lewat interaksi budaya lokal.
Munculnya Fenomena Sight-doing dan Penguasaan Keterampilan Baru
Tren pertama yang mendominasi pada tahun 2026 adalah sight-doing, di mana wisatawan memilih berlibur sambil mempelajari berbagai keterampilan unik yang ditawarkan oleh destinasi tersebut. Aktivitas yang diminati kini semakin beragam dan spesifik, mulai dari mengikuti workshop pembuatan parfum di Paris, kelas memasak kuliner tradisional, hingga belajar merajut di Estonia.
Data menunjukkan bahwa sekitar 80% responden menganggap aktivitas partisipatif seperti ini sangat membantu mereka dalam memahami esensi budaya setempat secara lebih mendalam. Selain itu, sebanyak 76% pelancong merasa bahwa keterampilan yang mereka peroleh selama liburan memiliki nilai yang lebih tahan lama dan bermakna dibandingkan sekadar membeli barang suvenir.
Beberapa kegiatan yang direkomendasikan dalam tren ini meliputi belajar melukis keramik di Portugal, seni ukir kayu di Swiss, kaligrafi di China, hingga praktik membatik di Indonesia. Pengalaman-pengalaman praktis ini memberikan dimensi baru dalam industri pariwisata yang lebih menonjolkan aspek edukasi dan apresiasi terhadap karya seni tradisional dari berbagai belahan dunia.
Eksplorasi Spontan Melalui Lore Chasing dan Snackpacking
Tren berikutnya yang dikenal sebagai lore chasing menonjolkan perjalanan tanpa rencana matang demi mendapatkan pengalaman unik yang bisa menjadi cerita menarik di masa depan. Sebanyak 82% wisatawan dari kalangan milenial dan Gen Z menyatakan kesediaan mereka untuk mencoba hal-hal di luar kebiasaan selama perjalanan tersebut menjanjikan narasi yang luar biasa.
Selain spontanitas, interaksi langsung dengan warga lokal atau orang asing yang ditemui secara tidak sengaja dianggap sebagai momen paling membekas oleh 86% responden. Tren ini secara alami mendorong para pelancong untuk lebih terbuka terhadap berbagai peluang tidak terduga yang muncul, dengan tetap mempertimbangkan faktor keamanan selama mereka menjelajah.
Di sisi lain, muncul tren snackpacking yang menjadikan aktivitas berburu camilan khas sebagai agenda wajib yang tidak boleh terlewatkan dalam setiap perjalanan. Sekitar 89% responden menilai bahwa mencicipi jajanan lokal yang tidak tersedia di negara asal mereka merupakan elemen krusial yang menentukan kualitas sebuah liburan.
Para wisatawan biasanya mencari camilan tersebut di berbagai lokasi, mulai dari pasar swalayan (50%), gerai street food di pinggir jalan (69%), hingga toko roti lokal (53%). Beberapa contoh kuliner yang sangat populer diburu dalam tren ini mencakup chimney cake dari Hungaria, falafel khas Mesir, hotteok asal Korea Selatan, serta burek dari Bosnia dan Herzegovina.
Merayakan Momen Spesial Melalui Miles on Milestones
Fenomena miles on milestones juga semakin berkembang, di mana perayaan peristiwa penting seperti ulang tahun, pernikahan, atau pesta lajang dikemas menjadi sebuah perjalanan wisata mancanegara. Sekitar dua pertiga dari total responden dalam survei ini merencanakan untuk menghadiri perjalanan yang berkaitan dengan momen penting seseorang sepanjang tahun 2026.
Mengingat perjalanan jenis ini biasanya memiliki jadwal yang cukup padat dan terstruktur, sebanyak 82% wisatawan memiliki rencana untuk menambah durasi liburan mandiri mereka. Sekitar 72% di antaranya berniat memperpanjang masa tinggal selama tiga hingga empat hari tambahan agar bisa mengeksplorasi destinasi tersebut dengan lebih santai dan leluasa.
Keseluruhan tren ini menegaskan bahwa pada tahun 2026, perjalanan wisata bukan lagi sekadar mencapai titik koordinat tertentu, melainkan tentang kualitas pengalaman yang didapatkan. Bahkan lokasi yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan untuk dikunjungi bisa memberikan kejutan dan kesan yang mendalam bagi para pelancong yang berani mencoba hal baru.
| Kategori Statistik Tren 2026 | Persentase / Data Responden |
|---|---|
| Total Responden Global | 8.000+ orang dari berbagai negara |
| Milenial & Gen Z Rela Fasilitas Minim Demi Traveling | 64% |
| Responden yang Ingin Aktivitas Belajar Budaya (Sight-doing) | 80% |
| Keterampilan Baru Dianggap Lebih Baik dari Suvenir | 76% |
| Minat Mencoba Hal Unik demi Cerita (Lore Chasing) | 82% |
| Interaksi Spontan dengan Warga Lokal Dianggap Berkesan | 86% |
| Pentingnya Mencoba Camilan Lokal (Snackpacking) | 89% |
| Persentase Berburu Camilan di Street Food | 69% |
| Rencana Memperpanjang Liburan Momen Penting | 82% |